Jadikan BerandaFavorit
  • Beranda
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Kesehatan
  • Berita
  • Lokasi: Beranda >Wisata >Great Stink: Saat Bau Tengik Menyelimuti London

    Great Stink: Saat Bau Tengik Menyelimuti London

    Waktu: 2026-09-13 00:19:51 Sumber: Vista Notebook Penulis: Bisnis

    Sungai Thames pernah berbau busuk parah hingga membuat warga kesulitan bernafas. Mereka yang mampu, segera meninggalkan kota. Mereka yang tak punya pilihan lain lantas membasahi tirai dengan kalsium klorida untuk menahan bau busuk. Saat keluar rumah, mereka menempelkan sapu tangan ke hidung. "Siapa pun yang pernah menghirup bau busuk ini tidak akan pernah melupakannya, dan bersyukur jika masih hidup," demikian jelas pers lokal.

    Hal itu terjadi di tahun 1858. Selama berminggu-minggu, suhu di musim panas terik berada di atas 30 derajat, tidak ada setetes pun hujan yang mendinginkan kota dan menyapu kotoran di Sungai Thames.

    Thames yang jadi urat kehidupan di London, berubah layaknya saluran pembuangan kotoran. Airnya keruh berlumpur, penuh kotoran manusia dan hewan, segala macam sampah, serta limbah industri dari pabrik-pabrik.

    Di tengah suhu panas yang memecahkan rekor, kotoran dan sampah yang membusuk terpapar sinar matahari tanpa henti, mengeluarkan bau busuk yang menyelimuti kota dan membuat udara terasa menyesakkan.

    Antara tahun 1800 dan 1850, jumlah penduduk London meningkat dua kali lipat menjadi 2,5 juta orang. Pada masa itu, ibu kota Kekaisaran Britania Raya ini merupakan metropolis terbesar di dunia. Namun, sistem pembuangan yang usang dan beban berlebih tidak mampu menampung jumlah penduduk kota tersebut; pipa-pipanya mengalirkan segala macam kotoran langsung ke Sungai Thames.

    Toilet model baru, yang mulai dibeli oleh warga kaya sejak pertengahan abad tersebut, justru memperburuk keadaan: kotoran langsung terbuang ke sungai. Sebelumnya, para pengumpul kotoran mengosongkan tangki septik di malam hari. Saat banjir, sungai tersebut meluapkan limbah ke jalan-jalan.

    Bau hebat Sungai Thames pun mencapai dimensi baru, hingga tercatat dalam sejarah. "Sebuah saluran pembuangan mematikan mengalir melintasi jantung kota, bukan aliran sungai yang indah dan segar," tulis sastrawan terkenal Charles Dickens dalam karyanya "Little Dorrit". Namun demikian, orang-orang tetap menggunakan air tersebut untuk mencuci dan minum.

    Pada musim panas tersebut penyakit disentri, tifus, dan kolera yang ditakuti menyebar dengan cepat. Orang-orang percaya penjelasan medis "miasma" yang mematikan dari zaman kuno . Mereka percaya, menghirup bau busuk atau tercemar, membuat mereka sakit.

    Namun, sejak wabah kolera terakhir yang menewaskan sekitar 30.000 orang antara tahun 1831 dan 1854, dokter John Snow sudah mulai curiga. Di kawasan kumuh Soho pada masa itu, sekitar 500 orang meninggal setelah tangki septik meluap. Ia yakin bahwa air minum yang terkontaminasilah yang jadi penyebab penyakit.

    Ia memerintahkan agar tuas pompa air di kawasan tersebut dibongkar. Hal ini menghentikan penyebaran penyakit. Selanjutnya, ia menyelidiki kasus-kasus kematian di sekitar pompa air lainnya dan menemukan bahwa di sekitar pompa-pompa tersebut, banyak warga yang terjangkit kolera. Namun banyak politisi yang belum mempercayai Snow saat itu. Pada Juni 1958, Snow meninggal, tidak lama sebelum terjadinya "Great Stink".

    Metropolitan Board of Works, badan pengelola pembangunan kota, telah bertahun-tahun mendesak agar sistem saluran pembuangan London diperbarui. Namun, Parlemen saat itu belum menyetujui anggaran yang diperlukan. Proyek-proyek prestisius lebih menarik perhatian daripada infrastruktur bawah tanah. Namun, hal itu berubah ketika para anggota parlemen tersebut merasakan sendiri bau busuk yang menyengat itu.

    Istana Westminster, yang baru dibangun beberapa tahun sebelumnya di tepi Sungai Thames, menjadi markas Parlemen Inggris. Namun anggota parlemen tidak dapat memikirkan urusan pemerintahan di tengah bau hebat "Great Stink". Para anggota parlemen pun mengungsi ke pedesaan. Dan mereka mengambil keputusan yang telah mereka tunda selama bertahun-tahun: London harus segera dibebaskan dari "uap berbahaya" Sungai Thames. Dalam waktu 18 hari, rancangan undang-undang untuk mendanai sistem saluran pembuangan baru disahkan dan tiga juta pound tersedia untuk proyek tersebut.

    Insinyur Joseph Bazalgette ditugaskan untuk mengerjakannya. Ia merancang jaringan terowongan bawah tanah sepanjang sekitar 1.800 kilometer, yang menampung limbah dari jalan-jalan dan ruang bawah tanah kota, tidak langsung membuangnya langsung ke Sungai Thames.

    Selain itu, Bazalgette memerintahkan pembangunan bendungan dan trotoar tepi sungai yang menyembunyikan pipa pembuangan utama bawah tanah sekaligus melindungi kota dari banjir. Terakhir, ia membangun dua stasiun pompa raksasa yang mengangkat air limbah agar dapat dialirkan lebih jauh. Stasiun Pompa Abbey Mills yang selesai dibangun pada tahun 1868 sering disebut sebagai "Katedral Air Limbah" karena arsitekturnya yang megah dan jadi penanda kemenangan atas kotoran, sampah, dan penyakit.

    Pada tahun 1875, proyek ini selesai. Bazalgette telah menciptakan sistem pembuangan limbah paling modern di dunia pada masa itu. Insinyur ini begitu visioner merancang kapasitas sistem saluran pembuangan untuk populasi kota yang dua kali lipat lebih besar, yaitu sekitar empat setengah juta jiwa. Sejak saat itu, kolera menjadi bagian dari sejarah.

    Satu setengah abad kemudian, hampir sembilan juta orang tinggal di London, telah menyumbat pipa-pipa dari era Victoria dengan produk zaman modern, mulai dari pembalut, popok, kondom, hingga sisa makanan. Hingga tahun 2025, infrastruktur karya Bazalgette masih menanggung beban utama sistem drainase London, dengan beberapa bagian diperluas.

    Pada tahun 2025, Terowongan Thames Tideway sepanjang 25 kilometer diresmikan, karena sistem bersejarah Bazalgette sudah tidak lagi memadai.

    Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

    Diadaptasi oleh Sorta Caroline

    Editor: Yuniman Farid

    • Sebelumnya: Syarat Beasiswa Bright 2026, Ada Biaya UKT Penuh, Tunjangan Bulanan dan Asrama
    • Selanjutnya: OJK: Dana SAL Tak Lagi Diperdebatkan, Penarikan di Himbara Dilakukan Bertahap

      Artikel Terkait

      • Mogok Jualan 3 Hari, Pedagang Daging Sapi Lamongan Minta Kepastian Harga
      • Banjir Dahsyat Terjang Afghanistan, 100 Orang Lebih Dilaporkan Hilang
      • 7 Idola KPop Laki-laki yang Punya Hobi Masak, Siapa Favoritmu?
      • Anomali Banjir di Tengah Kemarau
      • Diduga Lalai Tangani Balita hingga Meninggal, RS Maleo Sorong Dilaporkan ke Polisi
      • Hujan Deras Picu Banjir Bandang di Malaysia dan Vietnam, 4 Orang Tewas
      • Terlalu Banyak Barang di Rumah Bisa Memicu Stres, Ini Cara Mengatasinya
      • Merchandise Unik dari RBR 2026: Boneka Gajah Nona Seroja dan Bibit Pohon
      • Ditodong Senjata Api Mainan, Resepsionis Hotel di Batang Melawan dan Buat Begal Kabur
      • Celoteh Hotman Paris ke Jurnalis Berujung Permintaan Maaf

        Lihat Sekilas

      • Mitra MBG Ancam Mogok Massal Dapur MBG, BGN: Beri Kami Waktu
      • Taiwan Protes Kantornya Ditutup di Port Moresby, China Dukung Papua Nugini
      • Unesa Nonaktifkan 6 Pelaku Diduga Lecehkan 26 Mahasiswa dan Dosen
      • RUU Masyarakat Adat Ditargetkan Sah Jadi UU pada Periode Presiden Prabowo
      • Tak Ada Ampun, Trump Akan Terus Serang Iran sampai Merasa Cukup
      • Menkop Resmi Buka Pelatihan Manajer KDKMP
      • Maling Motor Panjat Rumah di Depok Sudah Puluhan Kali Beraksi
      • Ibu Penyiksa Anak Tirinya Berusia 4 Tahun hingga Tewas di Bekasi Jadi Tersangka
      • Kata Pengacara soal Don Ritto: Pakai Rumah Sentul hingga Simpan Emas 74 Kg
      • Jakarta Mulai Tinggalkan Open Dumping, Warga Didorong Pilah Sampah dari Rumah
      • Copyright © 2026 Powered by Great Stink: Saat Bau Tengik Menyelimuti London,Vista Notebook   sitemap