Jadikan BerandaFavorit
  • Beranda
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Kesehatan
  • Berita
  • Lokasi: Beranda >Kesehatan >Peneliti Coba Rekayasa Nyamuk Jantan demi Bikin Malaria Musnah

    Peneliti Coba Rekayasa Nyamuk Jantan demi Bikin Malaria Musnah

    Waktu: 2026-07-30 02:02:58 Sumber: Vista Notebook Penulis: Pendidikan

    Pernah kena malaria? Menggigil bukan main—sampai seolah rumah bisa roboh karena getarannya. Kepala serasa berputar-putar serasa naik roller coaster. Badan berkeringat seperti kebanyakan push-up di siang hari bolong di bawah terik matahari? Belum lagi mual, muntah, nyeri otot dan keluhan lainnya yang menyertai. Kini di Uganda, ada sejumlah peneliti yang ingin agar penyakit mematikan itu bisa hempas dari muka Bumi.

    Asisten laboratorium Angela Nakamura mengenakan sarung tangan plastik biru. Ia meraih sebuah boks yang dibungkus jaring nyamuk di sekelilingnya. Di dalamnya ada suara berdengung. Ratusan nyamuk tengah beterbangan mencari darah.

    "Sebelum mulai, aku harus memastikan mematuhi aturan keselamatan," jelas peneliti serangga Uganda itu, "termasuk memakai sarung tangan dan jas laboratorium untuk menghindari gigitan nyamuk!"

    Di laboratorium berkeamanan tinggi di balik pintu dan jendela tersegel di Institut Virus Uganda, para ilmuwan sibuk meneliti nyamuk Anopheles yang telah direkayasa secara genetik. Sebagaimana diketahui, nyamuk Anopheles bisa membawa parasit penyebab penyakit malaria yang berbahaya.

    Di jantung laboratorium berkeamanan tinggi itu bermukim para nyamuk yang menjadi objek penelitian. "Agar mereka bertelur, kami harus memberi makan nyamuk dewasa selama tiga hari dengan darah," jelas Nakamura.

    Untuk itu, ia memberi nyamuk darah manusia dari bank darah yang dipanaskan tepat pada suhu tubuh 37 derajat. "Keesokan harinya, kami menanti telur-telur nyamuk dan kami sudah menyiapkan tempat penetasan telur-telur itu," tambah Nakamura.

    Malaria, yang juga disebut demam rawa, adalah salah satu penyakit paling mematikan di daerah tropis, terutama bagi anak-anak kecil.

    Hampir setiap menit, satu bocah di bawah usia lima tahun meregang nyawa akibat penyakit ini di seluruh dunia.

    Menurut estimasi Organisasi Kesehatan Dunia , sekitar 263 juta orang positif malaria setiap tahunnya. 94 persen kasusnya terjadi di Afrika.

    Malaria menjadi penyakit infeksi paling umum di dunia. Penyebarannya semakin luas akibat perubahan iklim dan kenaikan suhu, bahkan kini menjalar ke Eropa dan Amerika Utara. Namun para peneliti bertekad memusnahkan penyakit ini. Komunitas dunia menetapkan target memberantas malaria sepenuhnya pada tahun 2030.

    Untuk mendekati target itu, institut penelitian terkemuka di Uganda,yang juga meneliti virus mematikan seperti Ebola dan Zika, mencoba pendekatan baru.

    Ide utamanya adalah memodifikasi genetik nyamuk secara cermat — demi menghempaskan mereka dari dunia sepenuhnya di masa depan.

    Dikutip dari situs Kementerian Kesehatan Indonesia, penyakit malaria disebabkan oleh infeksi parasit plasmodium, yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina, yang beredar pada petang sampai pagi hari. Parasit ini akan menetap di organ hati, berkembang biak, kemudian menyerang sel-sel darah merah.

    Indonesia adalah salah satu negara endemis malaria dengan jumlah kasus 443.530 pada tahun 2022, sebanyak 89% kasus positif malaria dilaporkan dari Provinsi Papua .

    Saat asisten laboratorium Nakamura mengunci pintu laboratorium berkeamanan tinggi, di ruang depan ada Doktor Jonathan Kayondo yang meneliti gambar mikroskopik larva nyamuk di mejanya.

    Kayondo adalah kepala departemen penelitian serangga di Institut Virus Uganda dan memimpin tim riset berjumlah 40 orang, yang merupakan bagian dari konsorsium internasional.

    Mereka punya proyek bareng-bareng bernama "Target Malaria", di mana lebih dari 200 peneliti terlibat, mulai dari AS, Inggris, Italia, dan Burkina Faso.

    "Dengan memanipulasi satu gen, kami bisa meningkatkan jumlah nyamuk jantan," jelas peneliti serangga itu.

    Jika selama beberapa generasi lebih banyak larva jantan menetas dibanding betina, papar Kayondo, "maka transmisi malaria akan terhenti karena hanya nyamuk betina yang menggigit dan menyebarkan penyakit."

    Proyek unik ini masih dalam tahap awal. Sejauh ini, rekayasa gen baru dilakukan di laboratorium Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Amerika Serikat , beserta uji coba efeknya.

    Larva nyamuk hasil rekayasa genetika kini telah diterbangkan ke Uganda dalam kotak berkeamanan tinggi, untuk diuji coba di alam bebas dalam waktu dekat.

    "Modifikasi gen mungkin bagian termudah," jelas Kayondo. Namun setelah gen diubah, nyamuk harus melewati berbagai studi keamanan.

    "Kami ingin memastikan modifikasi gen hanya mempengaruhi penularan malaria, tanpa menimbulkan efek lain," imbuhnya, "seperti meningkatkan penularan penyakit lain."

    Institut virus terkemuka di Afrika didirikan pada masa kolonial Inggris. Letaknya di dataran tinggi dengan pemandangan panorama Danau Victoria.

    Pria kecil dengan jas sedikit kebesaran itu menunjuk ke luar jendela. Telunjuknya mengarah ke Kepulauan Kalangala atau Ssese, sebuah kepulauan yang dinamai dari lalat tsetse. Inilah kepulauan di mana pada tahun 1906, Robert Koch, dokter tropis muda dan penerima Nobel asal Jerman, meneliti penyakit tidur atas perintah kolonial Jerman.

    Penyakit yang ditularkan oleh lalat tsetse itu telah membunuh seperempat juta orang di Afrika Timur Jerman kala itu.

    Kala itu, untuk menguji obatnya, peneliti asal Jerman mendirikan kamp konsentrasi di Ssese, menampung orang Afrika sekarat dan memaksakan obat-obatan kimia beracun kepada mereka.

    Di pulau-pulau itu pula Kayondo berencana melepas nyamuk hasil rekayasa genetika dalam beberapa tahun mendatang, untuk menguji di habitat asli mereka.

    "Dalam studi final, kami harus membuktikan efektivitas lewat percobaan lapangan," jelasnya. "Kami masih merencanakan jalannya studi. Jika percobaan lapangan disetujui, kami mungkin siap dalam dua atau tiga tahun."

    Pada tahun 2016, Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan target pembangunan berkelanjutan, termasuk pengurangan kasus malaria global setidaknya 90 persen pada tahun 2030.

    Para ilmuwan seperti Kayondo tahu:Perang melawan malaria adalah perlombaan melawan waktu. Gara-gara dampak perubahan iklim dan kenaikan suhu, penyakit yang menimbulkan demam ini makin menyebar ke seluruh dunia.

    Nyamuk malaria pun ditemukan di AS dan Eropa, seperti di Yunani, Spanyol, dan Portugal. Pada tahun 2023, CDC mengeluarkan peringatan, setelah enam orang di Florida dan Texas terinfeksi malaria.

    Untuk mencapai target di tahun 2030 nanti, pendekatan inovatif seperti ini sangat penting, tandas Koordinator Senior Penyakit di Globale Fonds -- Dana Global untuk Melawan AIDS, Tuberkulosis dan Malaria, Scott Filler.

    "Sejarah mengajarkan bahwa kita bisa kalah dalam perlombaan biologi, jika terus hanya mengobati malaria," ujar Filler. "Karena parasit terus mengembangkan resistensi terhadap pengobatan yang ada."

    Namun riset di Uganda mungkin menunjukkan bahwa harapan terbesar dalam perang melawan malaria justru ada pada makhluk mungil itu sendiri.

    *Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

    Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih

    Editor: Yuniman Farid

    Simak juga Video: Bahas 3 Fakta Nyamuk Malaria, Dia Bisa Handstand Lho

    [Gambas:Video 20detik]

    • Sebelumnya: Kemlu RI Ucapkan Duka Cita Meninggalnya Mantan Emir Qatar Sheikh Hamad
    • Selanjutnya: Lokasi Samsat Keliling Jadetabek Hari Ini 21 Juli, Simak Lokasi dan Jadwalnya

      Artikel Terkait

      • Kronologi ASN BPN Nias Tewas di Apartemen Medan, Polisi Ungkap Penyebab Kaki Korban Putus
      • Sekjen MPR Gaungkan 'Izakod Bekai Izakod Kai' di LCC 4 Pilar Papua Selatan
      • Santri Korban Kebakaran Ponpes di Lombok Tengah Mengaku Siap Sekolah Lagi
      • 3 Perwira Senior dan 5 Insinyur Kementerian Pertahanan Irak Diduga Korupsi Proyek Rp 1,28 Triliun
      • Komjak Sebut Penyidik KPK Bisa Dilibatkan Usut Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
      • Bakal Debut di Byon Combat Showbiz 8, Ini Kata Jeka Saragih
      • 10 Kota Paling Tidak Layak Huni di Dunia 2026, Ada dari Indonesia?
      • Film Aku Sebelum Aku: Sinopsis, Daftar Pemain, dan Jadwal Tayang
      • Khofifah Minta Perizinan Online guna Cegah Korupsi Dikebut, Ini Kata Dinas ESDM Jatim
      • AS-Iran Perang Lagi, 18 Maskapai Ini Batalkan Penerbangan ke Timur Tengah

        Lihat Sekilas

      • Dipolisikan KDRT, Pria Sumsel Bakar Rumah Mertua hingga Hanguskan 10 Rumah
      • Peneror Ancaman Bom di SDN Srengseng Sawah 15 Kini Ditahan, Terancam 20 Tahun Penjara
      • LBH: Admin TheKerupuk Tak Pernah Diizinkan Bicara Empat Mata dengan Pengacara Saat Diperiksa
      • KPK Usul Rekening Dana Otsus Papua Dipisah dari APBD, Ini Tujuannya
      • Persija Resmi Rekrut Eks Gelandang Timnas Bosnia Stjepan Loncar
      • Karhutla 17 Hari di Kotim, BPBD Kini Fokus Putus Rambatan Api
      • 14 Desa di Temanggung Gelar Pilkades Serentak, Mana Saja?
      • Brimob Polda Metro Gagalkan Aksi Vandalisme Fasilitas Umum di Jaktim
      • Kisah Pilu Korban KLM Nurul Salsa di Selayar, 3 Orang Meninggal di Atas Gabus lalu Dilepas ke Laut
      • Roy Suryo Dilaporkan ke Polres Jaksel soal Dugaan Pencemaran Nama Baik
      • Copyright © 2026 Powered by Peneliti Coba Rekayasa Nyamuk Jantan demi Bikin Malaria Musnah,Vista Notebook   sitemap