Jadikan BerandaFavorit
  • Beranda
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Kesehatan
  • Berita
  • Lokasi: Beranda >Wisata >Primata Kunci Cegah Kepunahan Massal akibat Perubahan Iklim

    Primata Kunci Cegah Kepunahan Massal akibat Perubahan Iklim

    Waktu: 2026-09-12 19:00:47 Sumber: Vista Notebook Penulis: Teknologi

    Para ilmuwan khawatir dunia sedang menuju kepunahan massal keenam, yaitu peristiwa di mana tiga perempat spesies di Bumi lenyap.

    Kepunahan hebat seperti ini pernah terjadi lima kali sepanjang sejarah. Namun berbeda dari masa lalu, kepunahan kali ini sebagian besar dipicu oleh ulah manusia, seperti polusi dan perubahan iklim.

    Para peneliti kini berlomba mencari cara untuk mencegah kehancuran tersebut, yang juga bisa mengancam pasokan makanan dunia secara serius.

    Melansir Independent, Selasa (14/7/2026) Amy McEuen seorang peneliti dari Illinois, Amerika Serikat percaya ia telah menemukan jawabannya saat melakukan penelitian di pegunungan Provinsi Yunnan, China barat daya.

    Pegunungan tersebut melindungi tempat tinggal 16 jenis primata seperti owa, monyet berhidung pesek, lutung, kera, dan kukang. Dan menurut McEuen, tempat itu bisa membantu melindungi hewan dan tumbuhan lain di ekosistem tersebut, sekaligus menjadi contoh untuk upaya pelestarian di masa depan.

    “Usaha melindungi panda di China terbukti sangat berhasil menyelamatkan ratusan spesies asli lainnya. Ini karena panda membutuhkan area hutan yang sangat luas untuk bertahan hidup,” kata McEuen, profesor biologi dari University of Illinois Springfield.

    “Dengan jutaan spesies yang harus dilindungi, kita tidak punya cukup waktu untuk menyelamatkannya satu per satu. Untungnya, ada cara yang lebih cepat untuk menjaga keanekaragaman hayati, yaitu menggunakan pendekatan umbrella species (spesies payung),” jelasnya.

    Pendekatan umbrella species

    Primata, serta kelompok hewan lain seperti kucing besar seperti harimau atau singa dan reptil, adalah "spesies payung" yang membutuhkan wilayah jelajah sangat luas.

    "Dengan melindungi habitat yang luas bagi hewan-hewan kunci ini, makhluk hidup lain di sekitarnya juga otomatis terlindungi dari bahaya ulah manusia," jelas McEuen.

    Beberapa hewan yang paling disukai di dunia seperti orangutan, berang-berang laut, dan panda juga merupakan spesies payung. Hal ini dapat mempermudah usaha untuk mengajak orang-orang melestarikan mereka.

    Namun, tentu saja ada tantangan lain yang bisa menghambat. Banyak hewan sering berpindah tempat, sehingga jauh lebih sulit untuk dilindungi.

    McEuen menyebut upaya melindungi hewan yang sering berpindah tempat ini sebagai masalah yang lebih rumit.

    “Meski begitu, kita bisa memikirkan cara menyediakan area persinggahan atau batu loncatan habitat di sepanjang jalur perjalanan mereka untuk membantu mereka,” catatnya.

    Namun, para pelestari alam kini berpacu dengan waktu. Bumi kehilangan berbagai jenis kelompok hewan dengan kecepatan yang sama seperti kepunahan massal di masa lalu, yaitu ratusan hingga ribuan spesies setiap tahunnya.

    “Kabar baiknya, kita belum benar-benar kehilangan mereka,” kata McEuen.

    Menurutnya, tidak ada usaha yang terlalu kecil. Menanam taman bunga pemikat serangga di halaman atau di atap rumah saja sudah bisa membantu menjaga populasi serangga beserta hewan pemangsanya.

    Hewan-hewan itu sendiri memberi kita alasan untuk tetap optimis. Sudah ada bukti bahwa beberapa spesies mulai beradaptasi dengan perubahan iklim, seperti mengubah ukuran tubuh dan perilaku mereka. Keanekaragaman genetik di dalam satu spesies juga membuat sebagian hewan lebih tahan banting dibanding yang lain.

    Hal inilah yang sedang dicoba dikembangkan oleh para ilmuwan di laboratorium.

    “Menurut saya, memanfaatkan kecerdasan kita untuk membantu alam juga memberi saya harapan, terutama saat berusaha menjaga keanekaragaman hayati yang ingin kita lestarikan,” kata McEuen.

    • Sebelumnya: Memaknai Sensus Ekonomi 2026
    • Selanjutnya: Memulihkan Lahan, Menumbuhkan Ekonomi dari Desa Pulu

      Artikel Terkait

      • Ditolak Atletico Madrid, Barcelona Akan Kembali Tawar Julian Alvarez
      • Pemkab Tanah Datar Gandeng Kejari Kawal Dana TKD Rp 126,87 M
      • Kronologi Bus Sinar Jaya Terguling di Brebes, Hantam Jembatan lalu Tabrak Truk
      • AHY Ungkap Rencana Pembangunan Infrastruktur Bali, Transportasi Massal hingga Taksi Air
      • Pesan Kapolda di Riau Bhayangkara Run: Jaga Alam untuk Generasi Penerus Kita
      • Sego Wiwit yang Sulit Dijumpai, Kuliner Khas Yogya dan Simbol Syukur Petani
      • Jawab Tantangan Tumbuh Kembang Anak dengan Kolaborasi Lintas Ahli
      • Konflik Adonara, Menteri HAM Dorong Penyelesaian Lewat Pendekatan Budaya
      • Kebocoran Pipa Gas di Surabaya Tertangani, Pasokan Tetap Normal
      • Pilu Ibu dan Anak Tewas Tertabrak KA Pandalungan di Tambun Selatan

        Lihat Sekilas

      • Riau Bhayangkara Run 2026: Berlari Melawan Karhutla
      • Lucas Digne Buka Suara soal Pelanggaran terhadap Lamine Yamal
      • BNPP Pertahankan Opini WTP BPK, Realisasi Anggaran Tembus 99,38 Persen
      • Bos Perusahaan Tewas di Hotel Mewah Jaksel Diduga Ada Masalah Sama Istri
      • Pilu ABG Tewas Saat Rayakan Kemenangan Spanyol di Piala Dunia
      • Di Lanud Malang, Prabowo Resmikan Panen Raya Serentak 43 Titik Se-Indonesia
      • Diresmikan Prabowo, Konstruksi Proyek Abadi Masela di Maluku Dimulai
      • Paniknya Ibu-ibu di Bogor Lihat 2 Ular King Cobra, Minta Bantuan Damkar
      • Haul Pangeran Diponegoro, Wamensos Ajak Warga Teladani Semangat Pahlawan
      • Febrie Adriansyah Punya Dua Status Hukum dalam Kasus yang Sama, Ini Kata Pakar
      • Copyright © 2026 Powered by Primata Kunci Cegah Kepunahan Massal akibat Perubahan Iklim,Vista Notebook   sitemap