Jadikan BerandaFavorit
  • Beranda
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Kesehatan
  • Berita
  • Lokasi: Beranda >Wisata >Bagaimana Mengukur Jejak Maut Gelombang Panas di Jerman?

    Bagaimana Mengukur Jejak Maut Gelombang Panas di Jerman?

    Waktu: 2026-09-12 19:37:43 Sumber: Vista Notebook Penulis: Berita

    Sengatan panas atau heatstroke biasanya diawali dengan sakit kepala, pusing, hingga kehilangan kesadaran.

    Pada kondisi ini, mekanisme pengatur suhu gagal bekerja sehingga temperatur tubuh melonjak ke batas yang mengancam nyawa. Sengatan panas bisa memicu kegagalan multiorgan hingga kematian. Namun begitu, ia jarang dicantumkan sebagai penyebab kematian.

    Menurut Kantor Statistik Federal Jerman, rata-rata per tahun hanya terdapat 21 kasus kematian akibat suhu panas selama periode 2004–2014.

    Sebabnya, "angka 5.120 kematian terkait panas" di Jerman hingga 28 Juni 2026 yang dipublikasikan Robert Koch Institute merupakan perkiraan. Namun, estimasi RKI bukan tak berdasar.

    "Angka ini merupakan hubungan yang didasarkan pada analisis statistik," kata Alexandra Schneider, ahli meteorologi, epidemiologi, sekaligus Wakil Direktur Institut Epidemiologi di Helmholtz Zentrum München.

    Estimasi tersebut diperoleh dengan membandingkan angka kematian yang dikumpulkan Kantor Statistik Federal Jerman dengan data perkembangan suhu udara, yang dikumpulkan Dinas Meteorologi Jerman dalam kurun waktu tertentu.

    Pada pekan terakhir Juni saja, sekitar 23.600 orang tercatat meninggal dunia di Jerman. Sementara suhu rata-rata mingguan—yakni rata-rata suhu siang dan malam selama satu pekan—mencapai 26 derajat Celsius. Menurut RKI, kematian akibat panas mulai meningkat ketika suhu rata-rata mingguan melampaui 20 derajat Celsius.

    Jumlah kematian pada pekan terakhir Juni itu hampir 30 persen lebih tinggi dibandingkan angka rata-rata pada periode yang sama di tahun-tahun sebelumnya, yakni sekitar 18.200 kematian. Untuk memperkirakan jumlah kematian akibat panas, para peneliti memodelkan berapa banyak orang yang diperkirakan meninggal dunia, apabila suhu maksimum tidak melebihi 20 derajat Celsius.

    Schneider menjelaskan bahwa sejumlah faktor lain yang dapat memengaruhi hasil analisis juga telah disesuaikan dalam model statistik tersebut. Dengan metode itu, RKI memperkirakan terdapat 5.120 kematian terkait panas, di mana 4.310 di antaranya terjadi hanya pada pekan terakhir Juni.

    Alexandra Schneider mengamini estimasi tersebut. Padahal di masa lalu, dia pernah mengkritik metode yang digunakan RKI. Menurutnya, jika suhu dalam satu pekan berfluktuasi tajam, maka penggunaan angka rata-rata mingguan dapat menihilkan lonjakan suhu dalam data statistik. Akibatnya. jumlah kematian akibat panas cenderung terestimasi lebih rendah.

    "Namun kali ini cuaca panas berlangsung terus-menerus," ujarnya.

    Seperti halnya kematian akibat panas, angka kematian yang berkaitan dengan cuaca dingin juga merupakan hasil estimasi berdasarkan relasi statistik.

    Pada musim dingin, penyakit saluran pernapasan biasanya meningkat. Selain itu, suhu dingin—sama seperti suhu panas—dapat memicu gangguan sistem kardiovaskular, kata Schneider.

    "Di Eropa, angka kematian yang berkaitan dengan cuaca dingin masih jauh lebih tinggi dibandingkan kematian akibat panas," ujarnya. "Namun, kini terlihat adanya pergeseran secara perlahan."

    Apakah krisis iklim yang menghangatkan musim dingin akan mengurangi jumlah kematian? Pertanyaan itu juga telah dikaji para peneliti melalui berbagai pemodelan.

    Menurut Schneider, dalam berbagai skenario, hasilnya tetap sama.

    "Efek bersihnya, yakni jumlah kematian secara keseluruhan, tetap meningkat."

    Penyebabnya, peningkatan kematian akibat panas jauh lebih besar dibandingkan penurunan kematian yang berkaitan dengan cuaca dingin.

    Schneider mengatakan, jika perhatian hanya difokuskan pada sengatan panas sebagai penyebab kematian, dampak kesehatan akibat suhu tinggi akan sangat diremehkan.

    "Karena itu digunakan metode statistik untuk melihat dan meneliti hubungan antara panas dengan berbagai penyakit kronis lainnya."

    Dia sendiri terlibat dalam sejumlah penelitian yang menunjukkan kaitan antara suhu tinggi dan berbagai penyakit.

    "Kami dapat menunjukkan bahwa panas kini berkaitan erat dengan meningkatnya kejadian serangan jantung," katanya.

    Selain itu, suhu udara yang tetap tinggi pada malam hari juga meningkatkan risiko stroke.

    Jonas Sonnenstuhl, seorang paramedis di Teltow, Brandenburg, mengatakan para tenaga kesehatan sudah memahami bahwa kasus stroke dan serangan jantung meningkat ketika cuaca sangat panas, sekaligus menjadi lebih cepat berakibat fatal.

    Schneider menyebut angka kematian akibat panas hanya sebagai puncak gunung es. Meskipun suhu tinggi tidak selalu menyebabkan kematian, kondisi tersebut tetap menjadi beban serius bagi kesehatan, terutama bagi orang yang telah memiliki penyakit akut.

    Sonnenstuhl menceritakan pengalamannya menangani seorang pasien perempuan berusia 17 tahun yang memiliki kelainan jantung bawaan dan menghubungi layanan darurat saat gelombang panas melanda.

    "Hari itu dia menunjukkan gejala yang jelas menandakan tubuhnya sudah mencapai batas."

    Pasien tersebut mengalami sesak napas, pusing, dan gangguan kesadaran.

    Gelombang panas juga membawa tantangan tersendiri bagi petugas ambulans dan tenaga rumah sakit. Pada 28 Juni, ketika menjalani giliran dinas selama 24 jam, Sonnenstuhl mengatakan suhu di dalam ambulans tidak pernah turun di bawah 30 derajat Celsius. Kondisi itu diperberat oleh pakaian kerja yang tebal, sepatu bot berujung baja, serta tuntutan pekerjaan fisik yang berat.

    Menurut Sonnenstuhl, banyak instalasi gawat darurat rumah sakit belum dilengkapi pendingin ruangan, demikian pula pos-pos ambulans.

    "Baik kami maupun tenaga medis di rumah sakit sama-sama berada di batas kemampuan."

    Padahal, bagi mereka yang bertugas menyelamatkan nyawa, kemampuan untuk tetap berpikir jernih merupakan syarat yang tidak bisa ditawar.

    Artikel ini terbit pertama kali dalam Bahasa Jerman Diadaptasi oleh Rizki Nugraha

    Editor: Yuniman Farid

    • Sebelumnya: 2 Tahun Diteror Tetangga, Satu Keluarga di Depok Awalnya Cuma Tegur soal Musik Keras
    • Selanjutnya: El Nino Bukan Vonis Kekeringan

      Artikel Terkait

      • Polda Sumsel Resmi Mengawali Pendidikan Bintara Polri, Diikuti 131 Siswa
      • Pemkab Sigi Ajukan Pembangunan 199 Huntara Tahap II bagi Korban Gempa
      • Seskab: Pemerintah Targetkan Renovasi 400.000 Rumah Tidak Layak Huni Tahun Ini
      • Jelang Final Piala Dunia 2026, Jersey Timnas Argentina Ludes Diburu Warga di Karawang
      • Tak Dikasih Rp 300.000, Anggota Satpol PP Ambil Iuran Ngaji Siswa Pecahan Rp 2.000 di Jakut
      • Satpol PP DKI Usut Oknum Diduga Pungli Rp 300 Ribu ke Rumah Belajar di Jakut
      • Buaya Muncul di Perairan Taman Nasional Komodo, Ini Kata BTNK
      • Tanggal 18 Juli Memperingati Hari Apa? Ini Momen Penting dan Sejarahnya
      • MPLS Sekolah Rakyat, Mensos: Pastikan Aman-Nyaman, Tak Ada Perpeloncoan
      • Pipa Air PAM JAYA Bocor di Kelapa Gading Jakut Bikin Jalan Raya Bekasi Tergenang

        Lihat Sekilas

      • Diperiksa Kejagung, Febrie Adriansyah Tersangka Kasus ASABRI Tak Ditahan
      • Bola Jadi Cermin Bangsa: ‘Sosiologi’ Final Piala Dunia 2026
      • Presiden Prabowo Sampaikan Pentingnya Digitalisasi Pemerintah
      • Kapan Manusia Pertama Kali Menyadari Ada Dinosaurus?
      • Pria Challenge Bocah di Depok Sempat Diamkan Korban 5 Menit di Freezer
      • Arus Peti Kemas IPC TPK Naik 7 Persen pada Semester I 2026, Tembus 1,82 Juta TEUs
      • Polisi Tangkap Pengedar Upal di Tangerang, Duit Palsu Rp 68 Juta Disita
      • Santriwati Cabut Pengakuan Dihamili Kiai Pekalongan, Ini Fakta Baru Kasus Padang Ati
      • Mendagri Prihatin dengan OTT Kepala Daerah: Padahal Sudah Ikut Retret
      • Harga Pasaran Spanyol Vs Argentina di Final Piala Dunia 2026
      • Copyright © 2026 Powered by Bagaimana Mengukur Jejak Maut Gelombang Panas di Jerman?,Vista Notebook   sitemap