Jadikan BerandaFavorit
  • Beranda
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Kesehatan
  • Berita
  • Lokasi: Beranda >Bisnis >Tiap Tahun Jutaan Warga RI Berobat ke Luar Negeri, Apa Alasannya?

    Tiap Tahun Jutaan Warga RI Berobat ke Luar Negeri, Apa Alasannya?

    Waktu: 2026-07-29 17:58:41 Sumber: Vista Notebook Penulis: Berita

    Press Conference ASMIHA ke-35: Beyond Borders, Training, and the Future of Indonesian Cardiology, di Jakarta Selatan, Kamis (16/7/2026).KOMPAS.com/DEVI PATTRICIA Press Conference ASMIHA ke-35: Beyond Borders, Training, and the Future of Indonesian Cardiology, di Jakarta Selatan, Kamis (16/7/2026).

    Sunarto menjelaskan, kualitas dokter dan fasilitas kesehatan memang tetap menjadi bagian penting dalam pelayanan medis. Namun, aspek tersebut kini tidak dapat dipisahkan dari pengalaman pasien selama menjalani perawatan.

    “Kualitas dokter maupun faskes itu menjadi salah satu bagian dari pengalaman pasien. Hal inilah yang menjadi pembanding utama masyarakat dalam memilih layanan kesehatan di luar atau dalam negeri,” jelasnya.

    Ia mengatakan, Kementerian Kesehatan juga mencermati laporan mengenai jumlah masyarakat Indonesia yang memilih berobat ke luar negeri.

    “Kementerian Kesehatan mendengar tentang laporan bahwa 1 tahun mungkin ada 1 atau 2 juta orang Indonesia yang berobat ke luar negeri. Hal ini menjadi refleksi bagi kami,” ujar Sunarto.

    Besarnya angka tersebut, menurut Sunarto, menjadi bahan evaluasi bagi layanan kesehatan di dalam negeri.

    Mutu layanan tak hanya soal dokter

    Ia menilai, mutu pelayanan tidak lagi cukup diukur hanya dari kemampuan dokter atau ketersediaan fasilitas medis.

    “Maka, dari sekarang mutu layanan kesehatan bukan hanya dari kualitas dokter, tetapi juga melihat bagaimana pelayanan terbaik yang bisa diberikan kepada masyarakat,” katanya.

    Sunarto menuturkan, pelayanan terbaik mencakup sejumlah aspek yang dirasakan langsung oleh pasien.  Mulai dari ketepatan layanan hingga pemanfaatan teknologi dalam proses perawatan.

    “Hal ini juga mencakup ketepatan layanan, kualitas dari fungsi layanan, bangunan fisik, hingga bagaimana pemanfaatan teknologi digunakan untuk pelayanan pasien,” tambahnya.

    Dengan demikian, rumah sakit dan fasilitas kesehatan perlu melihat layanan secara lebih menyeluruh. 

    Pasien tidak hanya datang untuk mendapatkan diagnosis dan pengobatan, tetapi juga mengalami seluruh proses pelayanan selama berada di fasilitas kesehatan.

    Kepercayaan pasien perlu dibangun

    Press Conference ASMIHA ke-35: Beyond Borders, Training, and the Future of Indonesian Cardiology, di Jakarta Selatan, Kamis (16/7/2026).KOMPAS.com/DEVI PATTRICIA Press Conference ASMIHA ke-35: Beyond Borders, Training, and the Future of Indonesian Cardiology, di Jakarta Selatan, Kamis (16/7/2026).

    Sementara itu, kardiolog senior sekaligus Ketua Dewan Etik PERKI, Muhammad Munawar, MD, FIHA menilai, kepercayaan menjadi faktor yang tidak kalah penting dalam layanan kesehatan.

    “Hal yang tidak kalah penting yaitu membangun kepercayaan pasien. Sebab, teknologi yang canggih, pendidikan dokternya bagus, tapi pasiennya tidak percaya juga tidak bisa,” tutur Munawar.

    Menurutnya, keberadaan teknologi medis yang canggih dan latar belakang pendidikan dokter yang baik belum cukup untuk membuat pasien merasa yakin. 

    Hubungan antara dokter dan pasien juga perlu dibangun melalui kejujuran serta keterbukaan.

    “Kejujuran dan trasnparansi yang harus kita pertahankan di Indonesia. Pasien dapat rasa kepercayaan penuh kepada dokter, bukan masalah fasilitas. Integritas itu yang harus ditanamkan pada para dokter untuk menunjang valuenya,” pungkasnya.

    Kepercayaan tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas layanan kesehatan di Indonesia. 

    Dengan pelayanan yang lebih menyeluruh dan hubungan dokter-pasien yang kuat, masyarakat diharapkan tidak lagi menjadikan layanan kesehatan luar negeri sebagai satu-satunya pilihan.

    • Sebelumnya: Garda Prabowo: Tiyo Ardianto Cerdas tapi Salah Teman
    • Selanjutnya: Krisis Moneter Asia 1997: Awal Runtuhnya Keajaiban Ekonomi Asia

      Artikel Terkait

      • Salah Injak Pedal, Mobil BYD Tabrak Dinding Kaca Gedung di SCBD
      • Pujian PM Keir Starmer Usai Inggris Raih Juara 3 Piala Dunia
      • Melihat Keseruan Final Liga Aspal, Gang Sempit Menteng Dipadati Warga
      • Salut! Siswa SD di Boyolali Temukan Celah Keamanan di Situs NASA
      • Diresmikan Prabowo, Konstruksi Proyek Abadi Masela di Maluku Dimulai
      • Bio Farma Luncurkan Vaksin Demam Tifoid, Bisa Diberikan Mulai Usia 6 Bulan
      • 10 Perusahaan Properti dengan Kapitalisasi Pasar Terbesar di RI
      • Rekam Jejak Pertemuan Spanyol Vs Argentina Jelang Final, termasuk Pembantaian 6-1
      • Ilmuwan Teliti Manusia Berusia 100 Tahun Selama 5 Dekade, Ini Rahasia Umur Panjang
      • Jepang Akan Operasikan Kereta Hidrogen Hybrid Pertama pada 2027

        Lihat Sekilas

      • Diduga Lalai Tangani Balita hingga Meninggal, RS Maleo Sorong Dilaporkan ke Polisi
      • Di Balik 'Propaganda Pembalasan' Rezim Iran
      • AS Lancarkan Serangan Terbaru, Trump Ingatkan Iran Bersikap Baik
      • Kebocoran Pipa Gas di Surabaya Tertangani, Pasokan Tetap Normal
      • Jelang HUT Ke-81 RI, Jalur Terdampak Bencana Sumatera Mulai Pulih
      • Menhaj Ungkap Reaksi Prabowo Saat Dikabari Biaya Haji 2027 Berpotensi Naik
      • Setahun Eksploitasi Bug PayPal untuk "Curi" Laptop, Pelaku Akhirnya Serahkan Diri ke Polisi
      • Ironi Sektor Konstruksi, Baru 629.622 Orang Pekerja Bersertifikat
      • Viral Suzuki Thunder Bertangki Modifikasi Antre di SPBU, Pertamina Buka Suara
      • Presiden LaLiga Konfirmasi Barcelona Kembali ke Aturan Rasio 1:1
      • Copyright © 2026 Powered by Tiap Tahun Jutaan Warga RI Berobat ke Luar Negeri, Apa Alasannya?,Vista Notebook   sitemap