Jadikan BerandaFavorit
  • Beranda
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Kesehatan
  • Berita
  • Lokasi: Beranda >Berita >Belajar dari Ledakan MAN 3 Padang, Peneliti UI: Sekolah Terlatih Deteksi Pelanggaran Berisik, Bukan Penderitaan Senyap

    Belajar dari Ledakan MAN 3 Padang, Peneliti UI: Sekolah Terlatih Deteksi Pelanggaran Berisik, Bukan Penderitaan Senyap

    Waktu: 2026-07-29 18:09:55 Sumber: Vista Notebook Penulis: Berita

    Kasus ledakan bom rakitan oleh seorang siswa MAN 3 Kota Padang membuka kotak pandora mengenai rapuhnya sistem deteksi dini kekerasan di lingkungan institusi pendidikan.

    Peneliti di Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia (UI), Wawan Kurniawan, menegaskan bahwa riset kekerasan di sekolah menunjukkan pelaku hampir tidak pernah "tiba-tiba meledak”.

    Hal ini dipertegas oleh pernyataan guru dan teman kelas pelaku berinisial R, mereka menilai pelaku merupakan siswa pendiam yang tidak menonjol.

    Namun ternyata dibalik itu, hampir selalu ada sinyal awal, terutama yang disebut sebagai leakage atau kebocoran niat.

    "Kebocoran niat ini bisa lewat ucapan sambil lalu, tulisan, atau unggahan di media sosial. Sering kali hal ini diketahui oleh teman sebaya, namun tidak pernah sampai ke telinga orang dewasa atau guru," ungkap Wawan kepada Kompas.com, Selasa (14/7/2026).

    Pernyataan ini sesuai dengan keterangan teman sekelas pelaku, yang menyebut bahwa sebelum melakukan aksi, R selaku memposting bahan untuk merakit bom di media sosial.

    Sinyal lain yang kerap lolos dari pengamatan adalah penarikan diri yang makin dalam, fiksasi atau ketertarikan baru pada tema-tema kekerasan, hingga munculnya "ketenangan" mendadak yang sebenarnya merupakan fase kepasrahan.

    Wawan mengkritik sistem pengawasan sekolah yang dinilai salah fokus dalam membaca dinamika psikologis murid.

    "Akar masalahnya, sekolah kita cenderung terlatih mendeteksi pelanggaran yang berisik, bukan penderitaan yang senyap. Jika ada klaim 'tidak ada laporan perundungan', itu hampir selalu berarti tidak ada saluran pelaporan yang dipercaya oleh siswa, bukan berarti perundungan itu tidak ada," tegasnya.

    Bahaya Group Polarization dan Peran Media

    Selain faktor internal sekolah, Wawan juga menyoroti bahaya ruang digital dan pola pemberitaan media.

    Di dunia maya, keberadaan grup daring yang homogen dapat memicu group polarization (polarisasi kelompok), di mana sikap anggotanya bergeser menjadi makin ekstrem.

    Anonimitas di internet menurunkan rem sosial dan menormalkan hal-hal yang di dunia nyata dianggap tabu.

    "Yang paling merusak empati adalah dehumanisasi. Calon korban hanya hadir sebagai abstraksi—'mereka, para perundung'—bukan sebagai manusia konkret. Ironisnya, bagi remaja yang terisolasi, komunitas daring yang memvalidasi rencana kekerasannya justru menjadi komunitas pertama yang mau menerimanya," jelas Wawan.

    Di sisi lain, Wawan mengingatkan media massa agar berhati-hati dalam membingkai kasus ini.

    Pemberitaan kasus serupa di masa lalu yang terlalu detail dan luas rentan berfungsi sebagai cetak biru (model) bagi remaja lain yang sedang mencari pelampiasan atas kemarahannya.

    "Liputan yang terlalu mendetail menyediakan naskah siap pakai. Remaja yang terluka tidak perlu mengarang solusinya sendiri, mereka tinggal meniru narasi yang beresonansi dengan luka mereka. Cara media membingkai kasus ini sekarang akan menentukan ada-tidaknya peniru (copycat) berikutnya," tutup Wawan.

    • Sebelumnya: KPK Dalami Tujuan Bupati Kuansing Beri Amplop ke Menhut Raja Juli
    • Selanjutnya: Filipina Buka Pusat Pelatihan Eksorsisme Pertama di Asia, Libatkan Psikolog dan Ahli Saraf

      Artikel Terkait

      • Waka BGN Beberkan Fokus Evaluasi MBG: Penerima Manfaat-Insentif SPPG
      • Persebaya Tutup HUT ke-99 dengan Tribute Emosional untuk Andie Peci dan Eri Irianto
      • Eks Bupati Pesawaran Dendi Ramadhona Dituntut 11 Tahun Penjara dan Bayar Uang Pengganti Rp 31,9 M
      • PP 30/2026: Unduh Data Perusahaan Kena Tarif Rp 500.000, Paket 100 Perusahaan Rp 5 Juta
      • 13 Kecamatan di Kabupaten Bogor Terdampak Kekeringan, Ini Rinciannya
      • Batang Jadi Lokasi Akad Massal 62.000 KPR FLPP, Prabowo Bakal Hadir
      • Bahlil Ungkap Target Produksi Blok Masela Dimulai 2029: Investasi Besar Banget
      • 5 Siswa SD di Surabaya Ciptakan Aplikasi Bahasa Isyarat hingga Juara IMPACT Fest 2026
      • 3 Zodiak yang Diprediksi Beruntung pada 19 Juli 2026, Ada Aries
      • Harga Daging Sapi Naik, Pedagang Bakso di Lamongan Dilema Hendak Naikkan Harga

        Lihat Sekilas

      • Gedung Putih Bela Argentina Soal Spanduk Malvinas di Piala Dunia
      • Peraturan Pemerintah: Tarif Pendirian hingga Pembubaran Koperasi Gratis
      • Daftar Lokasi Kantong Parkir Konser Akbar Monas 2026
      • Rumah Wanita di Kediri Diduga Sengaja Dibakar Mantan Suami, Kerugian Capai Rp 1 Miliar
      • Respons Tuchel Soal Kritik Donald Trump Usai Inggris Disingkirkan Argentina
      • Berburu Durian Menoreh di Kampung Durian Kulon Progo, Nikmati Langsung dari Kebun
      • Resep Krengsengan Daging Sapi, Masakan Jawa yang Gurih dan Nikmat
      • Prabowo Sebut PT DSI Sudah Kelola Devisa Lebih dari 10,5 Miliar Dollar AS
      • Pembunuh Cucu Mpok Nori Didakwa Melakukan Pembunuhan Berencana
      • Kisah Pilu Anak 8 Tahun Tinggalkan Jenazah Ibu di Tengah Laut demi Bertahan Hidup
      • Copyright © 2026 Powered by Belajar dari Ledakan MAN 3 Padang, Peneliti UI: Sekolah Terlatih Deteksi Pelanggaran Berisik, Bukan Penderitaan Senyap,Vista Notebook   sitemap