Jadikan BerandaFavorit
  • Beranda
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Kesehatan
  • Berita
  • Lokasi: Beranda >Pendidikan >Irak-Suriah Bangun Lagi Pipa Minyak, Siapkan Jalur Alternatif selain Selat Hormuz

    Irak-Suriah Bangun Lagi Pipa Minyak, Siapkan Jalur Alternatif selain Selat Hormuz

    Waktu: 2026-09-12 18:59:28 Sumber: Vista Notebook Penulis: Otomotif

    KOMPAS.com – Irak dan Suriah menandatangani kesepakatan untuk membangun kembali jalur pipa minyak yang menghubungkan kedua negara.

    Infrastruktur tersebut diharapkan menjadi jalur alternatif ekspor minyak selain melalui Selat Hormuz yang kerap dibayangi risiko geopolitik.

    Kesepakatan itu ditandatangani pada Jumat (18/7/2026) dalam pertemuan puncak Kamar Dagang di Washington, Amerika Serikat, yang membahas investasi AS di Irak. Penandatanganan disaksikan Menteri Energi AS Chris Wright.

    Perjanjian diteken CEO Basra Oil Company Bassem Abdul Karim Nasr dan CEO Syrian Petroleum Company Youssef Qablawi.

    "Ada begitu banyak ruang untuk mendorong peningkatan di Irak, meningkatkan produksi minyak, mengurangi ketergantungan pada negara tetangga yang bermusuhan, serta menghadirkan kebebasan, kemakmuran, dan energi yang melimpah bagi Irak," kata Wright sebelum penandatanganan.

    Kesepakatan itu bertepatan dengan kunjungan Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi ke Amerika Serikat. Dalam lawatan tersebut, ia juga bertemu Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih pada Selasa.

    Pipa minyak yang akan dipulihkan membentang dari Kirkuk di Irak utara menuju pesisir Mediterania di Suriah.

    Berdasarkan data Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA), jalur tersebut memiliki kapasitas nominal hingga 700.000 barel per hari.

    Pipa itu tidak lagi beroperasi sejak mengalami kerusakan saat invasi Amerika Serikat ke Irak pada 2003.

    Bagi Irak, proyek tersebut dinilai strategis karena negara itu selama ini sangat bergantung pada ekspor minyak melalui Pelabuhan Basra di Teluk Persia.

    Keterbatasan jalur ekspor alternatif membuat Irak rentan terhadap gangguan pelayaran di Selat Hormuz.

    Sebagai produsen minyak terbesar kedua di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), Irak juga terdampak oleh terganggunya lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz selama konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

    Data OPEC menunjukkan produksi minyak Irak turun lebih dari 50 persen menjadi sekitar 1,9 juta barel per hari pada Juni dibandingkan sekitar 4,2 juta barel per hari pada Februari, sebelum konflik AS-Israel dengan Iran meningkat.

    Irak bukan satu-satunya negara yang berupaya mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz.

    Uni Emirat Arab tengah membangun jalur pipa kedua menuju Pelabuhan Fujairah di Teluk Oman yang akan menggandakan kapasitas ekspor minyak di luar jalur tersebut.

    Sementara itu, Arab Saudi juga dilaporkan mempertimbangkan penambahan kapasitas pipa minyak menuju Laut Merah sebesar 2 juta barel per hari.

    Meski demikian, sejumlah analis menilai pembangunan jalur pipa baru hanya mengurangi risiko gangguan di Selat Hormuz, tetapi belum menghilangkan ancaman terhadap infrastruktur energi di kawasan.

    Pendiri Rapidan Energy, Bob McNally, mengatakan ancaman utama bukan hanya berada di jalur pelayaran.

    "Masalahnya bukan jalur air. Iran dapat menggunakan senjata untuk menyerang fasilitas pemuatan, stasiun pemompaan, terminal, maupun fasilitas penyimpanan yang terhubung dengan jalur pipa tersebut," ujarnya.

    • Sebelumnya: Mendiktisaintek: Gaji Awal Dosen Memang Rendah, Makin Terasa Cekak di Awal Tahun
    • Selanjutnya: Sesar Sianok Menggeliat 2 Kali, PGA Gunung Marapi: Tak Pengaruhi Aktivitas Gunung

      Artikel Terkait

      • Benarkah Beli BBM Pakai QRIS di SPBU Pertamina Minimal Rp 50.000? Ini Penjelasannya
      • Soal Konflik 2 Desa di Flores Timur, Wabup: Pemkab Sudah Bekerja Maksimal
      • Taktik Kasar Argentina Rusak Laga Final Piala Dunia, Spanyol Dinilai Layak Menang
      • Hadapi Kemarau hingga September, BPBD Sulsel Minta Warga Hemat Air dan Setop Bakar Sampah
      • UU Haji Digugat ke MK, Soroti Risiko Pidana bagi Umrah Mandiri
      • Sanksi untuk 6 Mahasiswa Unesa yang Diduga Lakukan Kekerasan Verbal terhadap 26 Orang
      • Ampas Kopi Gayo "Disulap" jadi Kemasan Pangan Ramah Lingkungan
      • Trump Dance, Presiden AS Tak Mau Minggir dan Malah Joget Saat Selebrasi Spanyol
      • Bupati Lombok Barat Nobar Piala Dunia Dini Hari, Paginya Kantor Disegel KPK
      • Mengenal Inés García, Pacar Lamine Yamal yang Setia Mendampingi hingga Spanyol Juara Dunia

        Lihat Sekilas

      • Regulasi Berbelit, Prabowo Minta Single National Identity Card Segera Dieksekusi
      • [KLARIFIKASI] Konten AI, Suporter Norwegia Lakukan "Viking Row" di Conveyor Bandara
      • Berkaca Dari Kecelakaan Maut di Pantura Indramayu, Mobil Pikap Dilarang untuk Angkut Penumpang
      • Jejak Prestasi Indonesia di China Open, Warisan Candra/Sigit dan Minions
      • Bupati Agam: Trase Baru Tol Sicincin-Bukittinggi Akan Dibahas Lagi jika Ditolak Masyarakat
      • Ekonom Sebut Pertumbuhan Utang Luar Negeri RI Dipicu oleh Hal Ini
      • Terbantu Harga Solar Rp 15.000, Nelayan: 70 Persen Pengeluaran Habis untuk BBM
      • Jaga Kondusivitas, Baliho HUT Sukoharjo Dipasang Tanpa Gambar Wajah Kepala Daerah
      • Efek Domino Kenaikan Harga Obat bagi Pengeluaran Keluarga
      • 49 Kota Paling Rentan Terhadap Panas, Ada 3 di Indonesia
      • Copyright © 2026 Powered by Irak-Suriah Bangun Lagi Pipa Minyak, Siapkan Jalur Alternatif selain Selat Hormuz,Vista Notebook   sitemap